LPM IAIN Curup Gelar Study Best Practice Implementasi Sistem Manajemen Mutu Berstandar ISO pada Perguruan Tinggi Unggul

Bandung — Dalam upaya memperkuat sistem penjaminan mutu dan meningkatkan kualitas tata kelola perguruan tinggi, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup melaksanakan kegiatan Study Best Practice Implementasi Sistem Manajemen Mutu Berstandar ISO pada Perguruan Tinggi Unggul. Kegiatan ini menjadi sarana berbagi pengalaman, bertukar gagasan, dan menggali praktik terbaik dalam penerapan sistem manajemen mutu yang efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan sambutan Sekretaris LPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menekankan pentingnya penguatan budaya mutu sebagai bagian integral dari pengembangan institusi. Implementasi sistem manajemen mutu tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar dan kelengkapan dokumen, tetapi juga harus tercermin dalam peningkatan kualitas layanan, efektivitas tata kelola, serta capaian kinerja perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Sekretaris LPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyampaikan bahwa kegiatan Study Best Practice merupakan kesempatan strategis untuk mempelajari pengalaman perguruan tinggi dalam mengembangkan sistem manajemen mutu yang terintegrasi.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap dapat memperoleh berbagai praktik baik yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik institusi. Penguatan mutu harus menjadi komitmen bersama, didukung oleh kepemimpinan yang kuat, kolaborasi ant unit kerja, serta evaluasi dan perbaikan yang dilaksanakan secara berkelanjutan,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.

Sharing Kepala Pusat Internasional: Penguatan Mutu dan Daya Saing Global

Sesi berbagi pengalaman menghadirkan Kepala Pusat Internasional yang menyampaikan perspektif mengenai pentingnya sistem manajemen mutu dalam mendukung internasionalisasi perguruan tinggi. Penguatan mutu menjadi salah satu fondasi dalam membangun kerja sama internasional, meningkatkan mobilitas akademik, serta memperluas jejaring kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga mitra di tingkat global.

Dalam pemaparannya, Kepala Pusat Internasional menyoroti pentingnya standar layanan yang jelas, tata kelola kerja sama yang terukur, serta evaluasi program internasional secara berkala. Upaya tersebut diperlukan agar berbagai program internasional tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan sistem penjaminan mutu yang mampu mengakomodasi kebutuhan internasionalisasi sekaligus menjaga konsistensi standar pelayanan akademik.

Sharing Kepala Pusat PDDIKTI: Akurasi Data sebagai Fondasi Penjaminan Mutu

Pada sesi berikutnya, Kepala Pusat PDDIKTI berbagi pandangan mengenai pentingnya pengelolaan data pendidikan tinggi yang akurat, lengkap, konsisten, dan mutakhir sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu.

Data perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung perencanaan, pengambilan keputusan, pelaporan kinerja, serta pelaksanaan evaluasi institusi. Oleh karena itu, pengelolaan data perlu dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan unit-unit terkait agar informasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan dimanfaatkan secara optimal.

Kepala Pusat PDDIKTI juga menekankan bahwa kualitas data tidak hanya menjadi tanggung jawab operator, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh unit kerja sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Sinkronisasi data, ketepatan waktu pelaporan, serta validasi informasi menjadi aspek penting dalam mendukung tata kelola perguruan tinggi yang transparan dan akuntabel.

Pembahasan ini mempertegas keterkaitan antara sistem manajemen mutu, tata kelola data, dan peningkatan kinerja institusi. Data yang berkualitas menjadi salah satu dasar penting bagi perguruan tinggi dalam melakukan evaluasi dan menetapkan langkah perbaikan secara tepat.

Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Prof. Dr. Sutarto, S.Ag.,M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan Study Best Practice merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

“Implementasi sistem manajemen mutu tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan dokumen atau standar administratif, tetapi juga bagaimana seluruh unit kerja mampu menerapkan proses yang konsisten, terukur, dan berorientasi pada hasil. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mengadopsi praktik-praktik terbaik yang relevan untuk memperkuat sistem penjaminan mutu internal perguruan tinggi,” ungkapnya.

Memperkuat Sinergi Menuju Budaya Mutu Berkelanjutan

Melalui kegiatan Study Best Practice ini, peserta memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai penerapan sistem manajemen mutu dari berbagai bidang, mulai dari penguatan tata kelola institusi, internasionalisasi, hingga pengelolaan data pendidikan tinggi.

Berbagai pengalaman dan gagasan yang dibagikan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi LPM dalam mengembangkan strategi peningkatan mutu yang lebih sistematis dan berorientasi pada hasil. Tindak lanjut kegiatan dapat dilakukan melalui pemetaan kesenjangan, penyempurnaan dokumen mutu, penguatan audit mutu internal, serta peningkatan koordinasi antarunit kerja.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa implementasi sistem manajemen mutu berstandar ISO perlu berjalan selaras dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan standar nasional pendidikan tinggi. Dengan demikian, penerapan mutu tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan formal, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja dan pengembangan institusi.

Melalui kolaborasi, pertukaran pengalaman, dan komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan, LPM diharapkan mampu mendorong terwujudnya tata kelola perguruan tinggi yang semakin berkualitas, adaptif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional